BANGGA DENGAN DAERAHKU BIAK,PAPUA

Standar

Salam hangat dari kami anak Papua 🙂

Bagi kalian yang belum tau banyak  tentang keunikan pulau-pulau indah di Papua, ikuti deh postinganku kali ini yang membahas salah satu pulau kecil yang terdapat di provinsi Papua dengan keunikan yang dimiliki serta sejarah yang terdapat didalamnya. langsung aja deh.. cekitdot guys 😀

PULAU BIAK

     Kabupaten Biak Numfor terdiri dari 2 (dua) pulau kecil, yaitu Pulau Biak dan Pulau Numfor serta lebih dari 42 pulau sangat kecil, termasuk Kepulauan Padaido yang menjadi primadona pengembangan kegiatan dari berbagai pihak. Luas keseluruhan Kabupaten Biak Numfor adalah 5,11% dari luas wilayah provinsi Papua.

Kabupaten Biak Numfor terletak di Teluk Cenderawasih pada titik 0°21′-1°31′ LS, 134°47′-136°48′ BT dengan ketinggian 0 – 1.000 meter di atas permukaan laut. Kabupaten ini merupakan gugusan pulau yang berada di sebelah utara daratan Papua dan berseberangan langsung dengan Samudera Pasifik. Posisi ini menjadikan Kabupaten Biak Numfor sebagai salah satu tempat yang strategis dan penting untuk berhubungan dengan dunia luar terutama negara-negara di kawasan Pasifik, Australia atau Filipina. Letak geografis ini memberikan kenyataan bahwa posisinya sangat strategis untuk membangun kawasan industri, termasuk industri pariwisata

Sejarah Penamaan Pulau Biak

Pada waktu pemerintah Belanda berkuasa di daerah Papua hingga awal tahun 1960-an nama yang dipakai untuk menamakan Kepulauan Biak-Numfor adalah Schouten Eilanden, menurut nama orang Eropa pertama berkebangsaan Belanda, yang mengunjungi daerah ini pada awal abad ke 17. Nama-nama lain yang sering dijumpai dalam laporan-laporan tua untuk penduduk dan daerah kepuluan ini adalah Numfor atau Wiak. Fonem w pada kata wiak sebenarnya berasal dari fonem v yang kemudian berubah menjadi b sehingga muncullah kata biak seperti yang digunakan sekarang. Dua nama terakhir itulah kemudian digabungkan menjadi satu nama yaitu Biak-Numfor, dengan tanda garis mendatar di antara dua kata itu sebagai tanda penghubung antara dua kata tersebut, yang dipakai secara resmi untuk menamakan daerah dan penduduk yang mendiami pulau-pulau yang terletak di sebelah utara Teluk Cenderawasih itu. Dalam percakapan sehari-hari orang hanya menggunakan nama Biak saja yang mengandung pengertian yang sama juga dengan yang disebutkan di atas.

Tentang asal usul nama serta arti kata tersebut ada beberapa pendapat. Pertama ialah bahwa nama Biak yang berasal dari kata v`iak itu yang pada mulanya merupakan suatu kata yang dipakai untuk menamakan penduduk yang bertempat tinggal di daerah pedalaman pulau-pulau tersebut. Kata tersebut mengandung pengertian orang-orang yang tinggal di dalam hutan`,`orang-orang yang tidak pandai kelautan`, seperti misalnya tidak cakap menangkap ikan di laut, tidak pandai berlayar di laut dan menyeberangi lautan yang luas dan lain-lain. Nama tersebut diberikan oleh penduduk pesisir pulau-pulau itu yang memang mempunyai kemahiran tinggi dalam hal-hal kelautan. Sungguhpun nama tersebut pada mulanya mengandung pengertian menghina golongan penduduk tertentu, nama itulah kemudian diterima dan dipakai sebagai nama resmi untuk penduduk dan daerah tersebut.

Pendapat lain, berasal dari keterangan ceritera lisan rakyat berupa mite, yang menceritakan bahwa nama itu berasal dari warga klen Burdam yang meninggalkan Pulau Biak akibat pertengkaran mereka dengan warga klen Mandowen. Menurut mite itu, warga klen Burdam memutuskan berangkat meninggalkan Pulau Warmambo (nama asli Pulau Biak) untuk menetap di suatu tempat yang letaknya jauh sehingga Pulau Warmambo hilang dari pandangan mata. Demikianlah mereka berangkat, tetapi setiap kali mereka menoleh ke belakang mereka melihat Pulau Warmambo nampak di atas permukaan laut. Keadaan ini menyebabkan mereka berkata, v`iak wer`, atau `v`iak`, artinya ia muncul lagi. Kata v`iak inilah yang kemudian dipakai oleh mereka yang pergi untuk menamakan Pulau Warmambo dan hingga sekarang nama itulah yang tetap dipakai.

Sejarah Dunia Yang Pernah Terjadi di Biak

Monumen Perang Ke II (Kekalahan Jepang oleh sekutu di Pulau Biak)

Monumen Perang Dunia ke II terletak di Kampung Paray/Anggraidi  Distrik Biak Kota. Letak monument ini berada di pinggir pantai yang sering dikunjungi sebagai tempat rekreasi di kota Biak. Akses ke lokasi ini cukup mudah dan dapat di tempuh dengan kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat dengan waktu tempuh 15 menit dari pusat kota Biak ke arah timur. Dipilihnya Parai sebagai lokasi Monumen tentu dengan berbagai alasan dan pertimbangan.

Arsitektur Monumen Perang Dunia Ke-II di Parai ini dirancang oleh Hiroshi Ogawa. Monumnen ini  terlihat  unik karena banyak simbol yang dimunculkan pada bagian-bagian kawasan monumen dan bentuk bangunannya. Dalam kawasan Monumen Perang Dunia Ke II secara garis besar terdiri dari beberapa bagian seperti  pada  bagian utama berupa tembok yang dibuat sedikit melengkung terlihat tulisan “MONUMEN  PERANG DUNIA  KE  II”  dalam tiga bahasa Indonesia, Inggris dan Jepang, pada bagian depan  terdapat delapan batu besar dengan bentuk dan ukuran bervariasi yang  letaknya di atas semacam Altar dengan menghadap potongan patok beton yang  tersusun rapih   melambangkan para prajurit tentara Jepang sedangkan delapan batu besar tersebut melambangkan delapan Jenderal Jepang yang gugur di medan perang antara lain ;

  1. Jenderal Kirohito
  2. Jenderal Yakoyama
  3. Konodera
  4. Sumakikatrada
  5. Yukiyama
  6. Shoukiyaka
  7. Selanjutnya belum di dapat

Pada bagian kanan terdapat bangunan berbentuk lekukan menyerupai cangkang keong yang melambangkan mulut goa dan sudut pada ke dua ujungnya berbentuk Alfa dan Omega. Bangunan ini terkesan melindungi 3 set meja marmer lengkap dengan 16 balok marmer sebagai  tempat duduk, salah satu di antara ke tiga meja tersebut berbentuk telapak kaki kiri sebagai simbol yang  melambangkan pendaratan tentara Jepang pertama di Pulau Biak. Pada bagian depannya berbaris secara simetris dan teratur dua belas balok marmer, serasa mengawal kita menuju pada bagian utama “Monumen Perang Dunia Ke II” dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Jepang. Pada bagian kiri atas dari tugu utama terdapat tiga prasasti dalam bahasa Indonesia, Inggris dan Jepang yang bertuliskan “MONUMEN PERANG DUNIA KE II. MONUMEN UNTUK MENGINGATKAN UMAT MANUSIA TENTANG KEKEJAMAN PERANG DENGAN SEGALA AKIBATNYA AGAR TIDAK TERULANG LAGI” sedang pada bagian samping dari tugu utama terdapat sebuah lorong berkelok yang didalamnya kita temui sisa perlengkapan dari para serdadu Jepang, foto-foto dan sisa-sisa tulang yang diletakkan dalam kotak-kotak besi. Untuk memasukinya anda harus melewati pintu kecil yang tidak setiap waktu terbuka. Dulunya lorong kecil tersebut adalah gua alam, yang berfungsi sebagai tempat persembunyian tentara Jepang saat diserang oleh tentara sekutu. Pintu keluar dan pintu masuk pada lorong ini menuju ke goa Sumberker. Pada bagian depan pintu melambangkan bendera Jepang (Hinomaru). Pada lorong ini tiap tahun ada keluarga dari serdadu yang datang untuk melakukan sembahyang mengenang keluarga mereka yang gugur.

Sejak dibangun sampai saat ini sesuai dengan kesepakatan kerjasama, jumlah tulang belulang yang sudah diserahkan ke pemerintah Jepang sebanyak 3500. Tiap tahunnya  pasti ada yang datang sampai 3 kali dan setiap tahun ada tulang belulang yang diserahkan ke pemerintah Jepang semenjak 1994. Banyak benda peninggalan  berupa panser-panser yang dulunya dapat kita temui namun saat ini tidak ditemukan lagi karena sudah dijual sebagai besi tua (bestu) termasuk pesawat Dakota Duapura. Monumen  ini dibangun pada  24 Juli 1992  dan diresmikan pada hari kamis tanggal 24 April 1994 oleh Gubernur Drs. Jakob Pattipi dan Parliamentary Vice Minister of Health and Welfare serta Ambassador Extraordinary and Plenipotentiary of Japan. Untuk mengenang serdadu Jepang yang telah gugur di medan perang, maka sesuai harapan Kementerian dan Kesejahteraan Jepang di bangun sebuah Monumen Perang Dunia Ke-II berdasarkan “Memorandum of Agreement” anatara Pemerintah Jepang dan Pemerintah Republik Indonesia.

Parai saat ini  dengan pantainya dan monument Perang dunia ke- II  merupakan salah satu objek wisata dan daya tarik wisata “sejarah” dari antara ke 29 objek dan daya tarik  wisata yang ada di Kabupaten Biak Numfor.

KEBUDAYAAN SUKU BIAK

Suku Biak merupakan salah satu kelompok masyarakat Papua yang hidup dan tinggal di kabupaten Biak Numfor. Dalam kesehariannya, suku Biak menggunakan Bahasa Indonesia dengan banyak dialek yang tersebar di 19 wilayah. Adapun dialek yang digunakan, yaitu Ariom, Bo’o, Dwar, Fairi, Jenures, Korim, Mandusir, Mofu, Opif, Padoa, Penasifu, Samberi, Sampori (Mokmer), Sor, Sorendidori, Sundei, Wari, Wadibu, Sorido, Bosnik, Korido, Warsa, Wardo, Kamer, Mapia, Mios Num, Rumberpon, Monoarfu, dan Vogelkop.

Namun, secara prinsip dialek-dialek yang berbeda itu tidak menghalangi mereka untuk saling mengerti satu sama yang lain. Di Kepulauan Biak-Numfor sendiri terdapat sepuluh dialek sedangkan di daerah-daerah migrasi atau perantauan terdapat tiga dialek.

Nama Biak  berasal dari kata v`iak. Mulanya merupakan suatu kata yang dipakai untuk menamakan penduduk yang bertempat tinggal di daerah pedalaman pulau-pulau tersebut. Kata tersebut mengandung pengertian orang-orang yang tinggal di dalam hutan`,`orang-orang yang tidak pandai kelautan`, seperti misalnya tidak cakap menangkap ikan di laut, tidak pandai berlayar di laut dan menyeberangi lautan yang luas dan lain-lain.

Nama tersebut diberikan oleh penduduk pesisir pulau-pulau itu yang memang mempunyai kemahiran tinggi dalam hal-hal kelautan. Sungguhpun nama tersebut pada mulanya mengandung pengertian menghina golongan penduduk tertentu, nama itulah kemudian diterima dan dipakai sebagai nama resmi untuk penduduk dan daerah tersebut. Lalu huruf “V” dibaca “B”, sehingga menjadi Biak.

Pendapat lain berasal dari keterangan ceritera lisan rakyat berupa mite, yang menceritakan bahwa nama itu berasal dari warga klen Burdam yang meninggalkan Pulau Biak akibat pertengkaran mereka dengan warga klen Mandowen. Menurut mite itu, warga klen Burdam memutuskan berangkat meninggalkan Pulau Warmambo (nama asli Pulau Biak) untuk menetap di suatu tempat yang letaknya jauh, sehingga Pulau Warmambo hilang dari pandangan mata.
Mereka pun berangkat, tetapi setiap kali mereka menoleh ke belakang mereka melihat Pulau Warmambo nampak di atas permukaan laut. Keadaan ini menyebabkan mereka berkata, v`iak wer`, atau `v`iak`, artinya ia muncul lagi. Kata v`iak inilah yang kemudian dipakai oleh mereka yang pergi untuk menamakan Pulau Warmambo, hingga sekarang nama itulah yang tetap dipakai.

Adapun sejarah suku Biak menurut mite, moyang orang Biak berasal dari satu daerah yang terletak di sebelah timur, tempat matahari terbit. Moyang pertama datang ke daerah kepulauan ini dengan menggunakan perahu. Ada beberapa versi ceritera kedatangan moyang pertama itu. Salah satu versi mite itu menceriterakan, bahwa moyang pertama dari orang Biak terdiri dari sepasang suami istri yang dihanyutkan oleh air bah di atas sebuah perahu.

Ketika air surut kembali terdampar di atas satu bukit yang kemudian diberi nama oleh kedua pasang suami istri itu Sarwambo. Bukit tersebut terdapat di bagian timur laut Pulau Biak (di sebelah selatan kampung Korem sekarang). Dari bukit sarwambo, moyang pertam itu bersama anak-anaknya berpindah ke tepi Sungai Korem dan dari tempat terakhir inilah mereka berkembang biak memenuhi seluruh Kepulauan Biak-Numfor.

Daerah penyebaran suku Biak saat ini sangatlah luas, meliputi pulau Biak, Supiori, Numfor, Padaido, Rani, Insumbabi, Meosbefandi, Ayau, Mapia, Doreri, Manokwari, Ransiki, Oransbari, Nuni, Pantai Utara kepla burung hingga ke Sorong, dan pulau – pulau Raja Ampat.

Orang Biak sejak dulu menyembah dewa persatuan dan pujaan mereka yaitu ’Manseren Koreri’ yang disebut ’manarmakeri’. Manamakeri artinya suatu nama dimana panggilan penghinaan untuk orang tua yang berkudis, kadas, borok, dan kotor yang menyebabkan banyak orang jijik kepadanya. Nama asli Manamakeri ialah yawi nusyado. Manamakeri selalu membuat tanda-tanda ajaib yaitu dapat menggantikan kulitnya yang berkudis, kadas, dan borok itu menjadi makanan dan harta kekayaan yang berlimpah ruah, ia dapat dipuja sebagai juru selamat.

Secara kekerabatan, Suku Biak memiliki kelompok kekerabatan berdasarkan marga atau disebut keret (famili). Sistem kekerabatannya luas berdasarkan pertalian darah. Berlaku adat menetap (virilokal).

Adapun pengetahuan yang dimiliki Suku Biak, yaitu mengetahui jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat yang dapat menyembuhkan sakit penyakit atau luka bakar, luka sayatan, maupun dapat digunakan untuk membunuh ikan, dalam jumlah sedikit. Jenis tumbuhan yang digunakan untuk membunuh ikan seperti Akar Tuba.

Mata pencaharian suku Biak adalah nelayan (melaut) dan bertani (meramu). Mereka menangkap ikan dengan menggunakan  jaring inanai dan arsam untuk menangkap ikan terbang dan juga ikan hiu. Hal ini dilakukan dengan menggunakan perahu yang disebut dengan waipapa. Suku Biak juga meramu atau berburu binatang hutan sebagai makanannya seperti berburu babi, kuskus, tikus tanah, dan ular pohon. Dapat pula mengambil jenis sayur-sayuran yang ada di hutan sebagai makanannya.

Adapun kesenian yang dimiliki suku Biak salah satunya adalah Tarian Yospan. Tarian ini merupakan tarian rakyat yang biasa dilakukan dalam kegiatan-kegiatan acara adat maupun peringatan hari-hari besar. Dan berkelompok dan memiliki irama dan ritme dilakukan secara riang, sangat unik dan menarik.

Selain tarian, suku Biak sering kali mengadaka upacara adat. Beberapa upacara tradisional suku Biak antara lain Upacara Gunting Rambut/cukur (Wor Kapapnik), Upacara Memberi atau mengenakan Pakaian (Wor Famarmar), Upacara Perkawinan (Wor Yakyaker Farbakbuk), dan lain-lain. Seluruh upacara diiringi dengan lagu dan tari bahkan merupakan sumbangan atau pendewaan kepada roh-roh para leluhur.

MAKANAN KHAS SUKU BIAK

ADA yang unik untuk sajian makanan di Biak, dimana para wanita di sana selalu membuat bara api yang dipakai untuk membakar hasil buruan para laki-laki. Tradisi bakar-membakar seperti ini biasa disebut barapen.
Agar api terus menyala di bawah tumpukan batu api itu diselipkan gumpalan-gumpalan hitam singkong atau ubi yang sudah gosong terbakar. Ketika api membara, bahan-bahan yang sudah dibungkus dedaunan bisa langsung ditaruh di atasnya untuk dibakar hingga matang. Bukan hanya daging perburuan, makanan umbi-umbian pun bisa dilakukan.
Salah satu makanan yang menyerupai makanan hasil barapen adalah Singkong Marapen. Singkong ini juga dibakar di bawah bebatuan yang telah membara setelah terbungkus pelepah pohon pinang.
Bagi Anda yang ingin mencicipi menu barapen di lokasi yang bertaraf internasional, berkunjunglah ke Hotel Biak Beach di Kawasan Pariwisata Marauw, Kabupaten Biak Numfor.
Adapun makanan khas Biak lainnya seperti papeda dan sup ikan.
OKE DEH, gimana guys? unik kan. bye the way, masih banyak kok keunikan lainnya yang belum sempat aku posting. Seperti keindahan alam yang menakjubkan. hmmmm akan ada dipostingan selanjutnya lagii deh..  hhehehe
sekian dan terimakasih.

sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Biak_Numfor

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbjayapura/2015/04/13/monumen-perang-dunia-ke-ii-parai-biak-numfor/

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s